Sabtu, 15 Desember 2012

MAKALAH SINTAKSIS


BAB I
PENDAHULUAAN
1.1 Latar Belakang
Masih banyak orang yang belum mengetahui dan belum paham tentang makna dan hakikat sintaksis. Padahal, penggunaanya begitu dekat dengan  masyarakat Indonesia. Yaitu berkisar tentang kalimat bahasa Indonesia yang digunakan sebagai alat komunikasi sehari-hari. Banyak permasalahan yang ada dalam mendalami penguasaan sintaksis dan hakikatnya. Perlu pendalaman dan banyak mempraktekan dalam dunia kebahasaan. Karena ilmu sintaksis sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Sebenarnya apa yang dimaksud dengan sintaksis itu? Sintaksis merupakan ilmu yang mempelajari tentang tatabahasa. Sintaksis juga dapat dikatakan tatabahasa yang membahas hubungan antarkata dalam tuturan.
Sintaksis merupakan cabang linguistik yang membicarakan hubungan antar kata dalam tuturan (speech). Unsur bahasa yang termasuk di dalam lingkup sintaksis adalah frase, klausa dan kalimat. Didalam makalah ini akan dibahas ketika pokok bahasan tersebut secara rinci.









1.2 Rumusan Masalah
   Berdasarkan latar belakang yang telah di uraikan di atas, dapat diambil rumusan masalah sebagai berikut:
1.      Apakah pengertian dari sintaksis?
2.      Apa saja yang termasuk dalam sintaksis bahasa Indonesia?
3.      Apakah yang dimaksud dengan frasa, klausa, dan kalimat?
4.      Apa sajakah macam-macam dari frasa dan strukturnya?
5.      Apa sajakah macam-macam dari klausa dan srukturnya dalam sintaksis?
6.       Apa saja macam-macam dari kalimat dan strukturnya?
1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan makalah  ini adalah sebagai berikut:
1.      Dapat mengetahui pengertian sintaksis.
2.      Dapat mengetahui secara jelas frasa, klausa, dan kalimat dalam sintaksis.
3.      Dapat mengetahui jenis-jenis frasa dan strukturnya dalam kajian sintaksis.
4.      Dapat mengetahui macam-macam klausa beserta strukturnya.
5.      Dapat mengetahui jenis-jenis kalimat dan strukturnya dalam kajian sintaksis.















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Landasan Teori
2.1.1 Sintaksis
Sintaksis membicarakan berbagai seluk-beluk frase dan kalimat (M.Asfandi Adul, 1990: 41). Sintaksis merupakan bagian dari ilmu bahasa yang membicarakan seluk beluk kalimat, klausa, dan frasa. Kata sintaksis berasal dari bahasa Yunani, yaitu sun yang bearti dengan dan kata tattein yang bearti menempatkan jadi secara etimologi berarti menempatkan bersama-sama kata-kata menjadi kelompok kata atau kalimat. Banyak ahli telah mengemukakan penjelasan ataupun batasan sintaksis. Dikatakan bahwa sintaksis adalah telaah mengenai pola-pola yang dipergunakan sebagai sarana untuk menggabung-gabungkan kata menjadi kalimat. Sintaksis juga merupakan analisis mengenai konstruksi-konstruksi yang hanya mengikutsertakan bentuk-bentuk bebas (Tarigan, 1984:5).
Istilah sintaksis (Belanda, Syntaxis) ialah bagian atau cabang dari ilmu bahasa yang membicarakan seluk beluk wacana, kalimat, klausa dan frase (Ramlah 2001:18).
Dari beberapa pernyataan yang telah dikemukakan dapat disimpulkan bahwa sintaksis merupakan bagian dari ilmu bahasa yang didalamnya mengkaji tentang kata dan kelompok kata yang membentuk frasa, klausa, dan kalimat.
2.1.2 Frasa
Frasa adalah suatu kelompok kata yang terdiri atas dua kata atau lebih yang membentuk suatu kesatuan yang tidak melampui batas subjek dan batas predikat. Frase terdiri dari dua kata atau lebih yang membentuk suatu kesatuan dan dalam pembentukan ini tidak terdapat ciri-ciri klausa dan juga tidak melampui batas subjek dan batas predikat. Frase adalah suatu komponen yang berstruktur, yang dapat membentuk klausa dan kalimat (M.Asfandi Adul, 1990:41).
Frase adalah satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang bersifat nonpredikatif atau satu konstruksi ketatabahasaan yang berdiri atas dua kata atau lebih. Frase terbentuk dari rangkaian kelas kata yang satu dengan yang lain, baik pada posisi pertama maupun ke dua. Rangkaian kelas kata yang membentuk frase itu mempunyai hubungan atributif, predikatif, dan posesif (Kailani Hasan,  1983:23).
Dari beberapa pernyataan yang telah dikemukakan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa frasa merupakan gabungan atau rangkaian kata yang tidak mempunyai batas subjek dan predikat, yang biasanya rangkaian kata tersebut mempunyai satu makna yang tidak bisa dipisahkan.
2.1.3 Klausa
Klausa adalah satuan gramatikal yang setidak-tidaknya terdiri atas subjek dan predikat. Klausa berpotensi menjadi kalimat. Klausa dapat dibedakan berdasarkan distribusi satuannya dan berdasarkan fungsinya. Pada umumnya klausa, baik tunggal maupun jamak, berpotensi menjadi kalimat. Kalimat inti terdiri atas klausa tunggal, sedangkan kalimat majemuk terdiri atas lebih dari satu klausa.  Oleh karena itu, kalimat majemuk terdiri atas klausa-klausa yang saling berhubungan.
Klausa ialah unsur kalimat, karena sebagian besar kalimat terdiri dari dua unsur klausa. Unsur inti klausa adalah S dan P. Namun demikian, S juga sering juga dibuangkan, misalnya dalam kalimat luas sebagai akibat dari penggabungan klausa, dan kalimat jawaban.
Klausa adalah satuan sintaksis berupa runtunan kata-kata berkonstruksi predikatif artinya, di dalam konstruksi itu ada komponen berupa kata atau frase, yang berfungsi sebagai predikat, dan yang lain berfungsi sebagai subjek, objek, dan sebagai keterangan.fungsi yang bersifat wajib pada konstruksi ini adalah subjek dan predikat sedangkan yang lain tidak wajib.
Sehigga dapat ditarik kesimpulan bahwa klausa merupakan unsur kalimat yang mewajibkan adanya dua fungsi sintaksis, yakni subjek dan predikat sedang yang lainnya tidak wajib. Penanda klausa adalah P, tetapi dalam realisasinya P itu bisa juga tidak muncul misalnya dalam kalimat jawaban atau dalam bahasa Indonesia lisan tidak resmi. Klausa juga berpotensi menjadi kalimat tunggal karena didalamnya terdapat unsur sintaksis yakni subjek dan predikat.



2.1.4 Kalimat
      Kalimat adalah satuan bahasa terkecil, dalam wujud lisan atau tulisan, yang mengungkapkan pikiran yang utuh (Diana Nababan, 2008:82).
      Kalimat adalah tuturan yang mempunyai arti penuh dan turunnya suara menjadi ciri sebagai batas keseluruhannya. Jadi, kalimat adalah tuturan yang diakhiri dengan intonasi final (Kailani Hasan, 1983:23).  Kalimat adalah suatu bentuk linguistik yang terdiri atas komponen kata-kata, frase, atau klausa (M.Asfandi Adul, 1990: 41).
Jika dilihat dari fungsinya, unsur-unsur kalimat berupa subjek, predikat, objek, pelengkap, dan keterangan. Menurut bentuknya, kalimat dibedakan menjadi kalimat tunggal serta kalimat majemuk.
Dapat ditarik kesimpulan bahwa kalimat adalah satuan bahasa yang secara relatif berdiri sendiri, mempunyai intonasi final, dan secara aktual ataupun potensial terdiri atas klausa.

           










BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Fungsi Kajian Sintaksis
Fungsi kajian sintaksis terdiri dari beberapa komponen. Diantaranya adalah subjek, predikat, objek, pelengkap dan keterangan. Memperjelas tentang hakikat dari subjek dan predikat, objek dan pelengkap, serta keterangan. Semuanya akan dijelaskan sebagai berikut.
a. Subjek dan Predikat
1.      Subjek merupakan bagian yang diterangkan predikat. Subjek dapat dicari dengan pertanyaan ‘Apa atau Siapa yang tersebut dalam predikat’. Sedangkan predikat adalah bagian kalimat yang menerangkan subjek. Predikat dapat ditentukan dengan pertanyaan ‘yang tersebut dalam subjek sedang apa, berapa, di mana, dan lain-lain’.
2.      Subjek berupa frasa nomina atau pengganti frasa nomina. Sedangkan predikat bisa berupa frasa nomina, verba, adjektiva, numeralia, atau pun preposisi.
3.      Jika diubah menjadi kalimat tanya, subjek tidak dapat diberi partikel -kah. Predikat dapat diberi partikel -kah.
Contoh dari kalimat yang memiliki subjek dan predikat adalah, ‘Adik sedang makan’. ‘Adik’ menduduki fungsi subjek, sedangkan ’sedang makan’ menduduki fungsi predikat.
Adik sedang makan.’
     S              P
b. Objek dan Pelengkap
1.      Objek berupa frasa nomina atau pengganti frasa nomina, sedangkan pelengkap berupa frasa nomina, verba, adjektiva, numeralia, preposisi, dan pengganti nomina.
2.      Objek mengikuti predikat yang berupa verba transitif (memerlukan objek) atau semi transitif dan pelengkap mengikuti predikat yang berupa verba intransitif (tidak memerlukan objek).
3.      Objek dapat diubah menjadi subjek dan pelengkap tidak dapat diubah menjadi subjek.

c. Keterangan.
1.      Keterangan adalah bagian kalimat yang menerangkan subjek, predikat, objek atau pelengkap.
2.      Berupa frasa nomina, preposisi, dan konjungsi.
3.      Mudah dipindah-pindah, kecuali diletakkan diantara predikat dan objek atau predikat dan pelengkap.
Contoh kalimat yang memiliki keterangan adalah ‘Kemarin, Pak Anwar membeli buah-buahan di pasar induk’. ‘Kemarin’ dan ‘di pasar induk’ merupakan keterangan, untuk ‘Pak Anwar’ menduduki fungsi subjek. Kata ‘membeli’ merupakan predikat dan ‘buah-buahan’ adalah fungsi objek.
Kemarin , Pak Anwar membeli buah-buahan di pasar induk’.
     Ket               S                P                O                   Ket
3.2  Aspek-Aspek Sintaksis
Aspek-aspek yang dikaji dalam sintaksis meliputi frasa, klausa, dan kalimat. Dibawah ini merupakan uraian dari ketiga aspek tersebut.
3.2.1        Frasa
Frasa dapat dihasilkan dari perluasan sebuah kata. Sebuah frasa dengan perluasannya tidak menimbulkan jabatan atau fungsi lain sehingga tidak melebihi batas fungsi semula. Jika perluasan itu ternyata menimbulkan jabatan fungsi baru atau membentuk pola subjek-predikat, perluasan itu sudah menjadi klausa.
Contoh: karya sastra (frasa)
diperluas
karya sastra indah itu (frasa)
karya sastra itu indah (klausa)
        S                   P
            Frasa dapat dibagi atas empat jenis, sebagai berikut.
a.    Frasa Eksosentris
Frasa Eksosentris, adalah frasa yang tidak mempunyai persamaan distribusi dengan unsurnya. Atau dapat diartikan frase yang komponen-komponennya tidak mempunyai prilaku sintaksis yang sama dengan keseluruhan. Frasa ini tidak mempunyai unsur pusat. Jadi, frasa eksosentris adalah frasa yang tidak mempunyai UP.
Contoh:
Sejumlah orang di gardu.
Menurut Imam (2008 :1), Frase Eksosentris dibagi menjadi dua, yakni:
1.      Frase Eksosentrik yang Direktif
Komponen pertamanya berupa preposisi, seperti “di, ke dan dari” dan komponen berupa kata/kelompok kata yang biasanya berkategori nomina.
Contoh:
di rumah
dari pohon mahoni
demi kesejahteraan
2.       Frase Eksosentrik yang Nondirektif
Komponen pertamanya berupa artikulus, seperti “si” dan “sang” atau”yang”, “para” dan “kaum”, sedangkan komponen keduanya berupa kata berkategori nomina, adjektiva atau verba.
Contoh: si kaya, para remaja kampung
Diana Nababan (2008: 84)  dalam bukunya Intisari Bahasa Indonesia, mengatakan bahwa jenis frasa eksosentris dapat dibedakan menjadi :
1)      Frasa ferbal adalah frasa yang intinya berupa kata kerja.
Contoh : Menangis keras
Sedang melamun
Dapat berjalan
2)      Frasa adjektiva adalah frasa yang intinya berupa kata sifat.
Contoh : Kasar sekali
Amat lembut
Sangat merdu
3)      Frasa nominal adalah frasa yang intinya berupa kata benda.
Contoh: Lapangan besar
Rumah besar
Sang pemimpin
4)      Frasa pronominal adalah frasa yang intinya berupa kata ganti.
Contoh : Kalian semua
Kamu dan dia
5)      Frasa adverbial adalah frasa yang intinya berupa kata keterangan.
Contoh : Lebih kurang
6)      Frasa numerial adalah frasa yang intinya berupa kata bilangan.
Contoh : Tujuh dan delapan
Empat belas
7)      Frasa interogativa adalah frasa yang intinya berupa kata tanya.
Contoh : Apa dan siapa
b.      Frasa Endosentris
    Frasa endosentris adalah frasa yang unsur-unsur pembentuknya dapat menggantikan kedudukan frasa itu secara keseluruhan.
Contoh : Mereka menempati rumah baru.
Frasa rumah baru mempunyai inti. Mencari inti frasa dapat diuji dengan membuat kalimat berterima dan tidak berterima:
a.       Mereka menempeti rumah
b.      Mereke menempeti baru
Kalimat a mempunyai makna, berarti rumah menjadi inti frasa. Kalimat b tidak berterima dan tidak mempunyai makna, berarti baru bukanlah inti frasa.
Jenis frasa endosentris:
1)      Frasa Endosentris Koordinatif
Masing-masing unsur memiliki kedudukan sederajat yang tidak saling menerangkan unsur yang lain. Sifat kesetaraan itu dapat dibuktikan oleh kemungkinan menyisipkan kata penghubung dan atau.
Contoh : Anak itu sudah tidak mempunyai ibu bapak. (ibu dan bapak)
2)      Frasa Endosentris Apositif
Frasa yang berhubungan antara unsur-unsurnya dapat saling menggantikan.
Contoh : Aminah, Anak Pak Lurah sangat cantik.
Frasa anak Pak Lurah adalah unsur keterangan tambahan untuk menerangkan aminah.
3)      Frasa Endosentris Atributif
Frasa yang salah satu unsurnya dapat menggantikan frasa itu secara keseluruhan. Frasa ini memiliki unsur pusat dan unsur atribut. Inti frasa ditandai dengan D (diterangkan) dan unsur atribut ditandai dengan M (menerangkan)
Contoh: Rumahnya sangat besar
                                       M     D
Kata sangat adalah atribut atau penjelas untuk kata besar.
Contoh : Anak nakal               sangat marah
                   M     D                    M         D
c.       Frasa Ambigu
Frasa ambigu adalah frasa yang menimbulkan makna ganda atau tidak jelas.
Contoh : Lukisan Ayah dipajang di ruang tamu.
Frasa lukisan ayah mempunyai makna:
1.   Lukisan milik Ayah
2.   Lukisan mengenai diri Ayah
3.   Lukisan buatan Ayah
d.      Frasa Idiomatik
Frasa idiomatic adalah frasa yang mempunyai makna sampingan atau bukan makna sebenarnya.
Contoh : orang tua itu sudah banyak makan garam kehidupan.
3.2.2  Klausa
Klausa merupakan bagian dari kalimat. Klausa memiliki unsur subjek dan predikat, tetapi tidak mengandung intonasi, jeda, tempo, dan nada.
(a)    Klasifikasi Klausa
Ada lima dasar yang dapat digunakan untuk mengklasifikasikan klausa. Ketiga dasar itu adalah:

1.      Klasifikasi klausa berdasarkan struktur internnya.
2.      Klasifikasi klausa berdasarkan ada tidaknya unsur negasi yang menegatifkan P.
3.      Klasifikasi klausa berdasarkan kategori frasa yang menduduki fungsi P.
4.      Klasifikasi klausa berdasarkan criteria tatarannya dalam kalimat.
5.      Klasifikasi klausa berdasarkan potensinya untuk menjadi kalimat.
        Berikut hasil klasifikasinya:
1.       Klasifikasi klausa berdasarkan struktur internnya.
Klasifikasi klausa berdasarkan struktur internnya mengacu pada hadir tidaknya unsur inti klausa, yaitu S dan P. Dengan demikian, unsur ini klausa yang bisa tidak hadir adalah S, sedangkan P sebagai unsur inti klausa selalu hadir.
Atas dasar itu, maka hasil klasifikasi klausa berdasarkan struktur internnya, berikut klasifikasinya:
a)       Klausa Lengkap
Klausa lengkap ialah klausa yang semua unsur intinya hadir. Klausa ini diklasifikasikan lagi berdasarkan urutan S dan P menjadi :
1.      Klausa versi, yaitu klausa yang S-nya mendahului P.
Contoh :
                   Kondisinya masih kritis.
                   Gedung itu sangat tinggi.
                   Sekolah itu masih rusak.
2.      Klausa inversi, yaitu klausa yang P-nya mendahului S.
Contoh :
                   Masih kritis kondisinya.
                   Sangat tinggi gedung itu.
                   Masih rusak sekolah itu.
b)   Klausa Tidak Lengkap
Klausa tidak lengkap yaitu klausa yang tidak semua unsur intinya hadir. Biasanya dalam klausa ini yang hadir hanya S saja atau P saja. Sedangkan unsur inti yang lain dihilangkan.
2.    Klasifikasi klausa berdasarkan ada tidaknya unsur negasi yang secara gramatik menegatifkan P.
Unsur negasi yang dimaksud adalah tidak, tak, bukan, belum, dan jangan. Klasifikasi klausa berdasarkan ada tidaknya unsur negasi yang secara gramatik menegatifkan P menghasilkan :
a.        Klausa Positif
Klausa poisitif ialah klausa yang ditandai tidak adanya unsur negasi yang menegatifkan P.
Contoh :
         Bambang seorang pesepak bola tersohor.
         Anak itu mengerjakan PR.
         Mereka pergi ke toko.
b.       Klausa Negatif
             Klausa negatif ialah klausa yang ditandai adanya unsur negasi yang menegaskan P.
Contoh :
     Bambang bukan seorang pesepak bola tersohor.
     Anak itu belum mengerjakan PR.
     Mereka tidak pergi ke toko.
Kata negasi yang terletak di depan P secara gramatik menegatifkan P, tetapi secara sematik belum tentu menegatifkan P. Dalam klausa Dia tidak tidur, misalnya, memang secara gramatik dan secara semantik menegatifkan P. Tetapi, dalam klausa Dia tidak mengambil pisau, kata negasi itu secara semantik bisa menegatifkan P dan bisa menegatifkan O. Kalau yang dimaksudkan ‘Dia tidak mengambil sesuatu apapun’, maka kata negasi itu menegatifkan O. Misalnya dalam klausa Dia tidak mengambil pisau, melainkan sendok.





3.   Klasifikasi klausa berdasarkan kategori frasa yang menduduki fungsi P.
Berdasarkan kategori frasa yang menduduki fungsi P, klausa dapat diklasifikasikan menjadi :
a)  Klausa Nomina
     Klausa nomina ialah klausa yang P-nya berupa frasa yang termasuk kategori frasa nomina.
Contoh:
           Pamannya petani di kampung itu.
           Bapak itu dosen linguistik.
b)  Klausa Verba
                   Klausa verba ialah klausa yang P-nya berupa frasa yang termasuk kategori frasa verba.
Contoh :
           Dia membantu para korban banjir.
           Pemuda itu menolong nenek tua.
Klausa verba dibagi menjadi beberapa tipe, yakni:
a.       Klausa Transitif
Adalah klausa yang predikatnya berupa verba transitif.
                   Contoh: Adik menulis surat.
b.       Klausa Intrasitif
Adalah klausa yang predikatnya berupa verba intransitif.
Contoh: Adik menyanyi kakak sedang berdandan.
c.        Klausa Refleksif
Adalah klausa yang predikatnya berupa verba refleksif.
Contoh: Kakak sedang berdandan.
d.      Klausa Resiprokal
Adalah klausa yang predikatnya berupa verba resiprokal.
Contoh: Orang itu bertengkar sejak tadi.



c)  Klausa Adjektiva
          Klausa adjektiva ialah klausa yang P-nya berupa frasa yang termasuk kategori frasa adjektiva.
Contoh :
     Paman sangat kurus.
     Rumah itu sudah tua.
     Ibu guru sangat baik.
d)  Klausa Numeralia
Klausa numeralia ialah klausa yang P-nya berupa frasa yang termasuk kategori numeralia.
Contoh :
      Anaknya empat orang.
      Mahasiswanya sembilan orang.
      Temannya dua puluh orang.
e)   Klausa Preposisiona
           Klausa preposisiona ialah klausa yang P-nya berupa frasa yang termasuk kategori frasa preposisiona.
Contoh :
 Kertas itu di bawah meja.
 Baju saya di dalam lemari.
 Orang tuanya di Surabaya.
f)   Klausa Pronomia
      Klausa pronomial ialah klausa yang P-nya berupa frasa yang termasuk kategoi ponomial.
Contoh :
      Hakim memutuskan bahwa dialah yang bersalah.
      Sudah diputuskan bahwa ketuanya kamu dan wakilnya saya.




4.       Klasifikasi klausa berdasarkan potensinya untuk menjadi kalimat
Klasifikasi klausa berdasarkan potensinya untuk menjadi kalimat dapat dibedakan atas :
a.       Klausa Bebas
Klausa bebas ialah klausa yang memiliki subjek dan predikat, sehingga berpotensi untuk menjadi kalimat mayor. Jadi, klausa bebas memiliki unsur yang berfungsi sebagai subyek dan yang berfungsi sebagai predikat dalam klausa tersebut. Klausa bebas adalah sebuah kalimat yang merupakan bagian dari kalimat yang lebih besar. Dengan perkataan lain, klausa bebas dapat dilepaskan dari rangkaian yang lebih besar itu, sehingga kembali kepada wujudnya semula, yaitu kalimat.
Contoh :
            Anak itu badannya panas, tetapi kakinya sangat dingin.
            Dosen kita itu rumahnya di jalan Ambarawa.
            Semua orang mengatakan bahwa dialah yang bersalah.
b.       Klausa terikat
            Klausa terikat ialah klausa yang tidak memiliki potensi untuk menjadi kalimat mayor, hanya berpotensi untuk menjadi kalimat minor karena strukturnya tidak lengkap. Kalimat minor adalah konsep yang merangkum: pangilan, salam, judul, motto, pepatah, dan kalimat telegram.
Contoh :
            Semua murid sudah pulang kecuali yang dihukum.
            Semua tersangkan diinterograsi, kecuali dia.
            Ariel tidak menerima nasihat dari siapa pun selain dari orang tuanya.
5.       Klasifikasi klausa berdasarkan criteria tatarannya dalam kalimat.
Berdasarkan tatarannya dalam kalimat, klausa dapat dibedakan atas :
a.        Klausa Atasan
Klausa atasan adalah klausa yang dapat berdiri sendiri sebagai kalimat.
Contoh : Irwan datang ketika kami sedang menonton film.
               Klausa Atasan

b.      Klausa Bawahan
Klausa bawahan ialah klausa yang belum lengkap isinya. Klausa ini tidak dapat berdiri sendiri.
Contoh : Irwan datang ketika kami sedang menonton film.
                                                      Klausa Bawahan
  (b) Analisis Klausa
Klasifikasi klausa dapat dianalisis berdasarkan tiga dasar, yaitu berdasarkan fungsi unsur-usurnya, berdasarkan kategori kata atau frase yang menjadi unsurnya, dan berdasarkan makna unsur-unsurnya.
1. Analisis Klausa Berdasarkan Fungsi Unsur-Unsurnya
Klausa terdiri dari unsur-unsur fungsional yang di sini disebut S, P, O, pel, dan ket. Kelima unsur itu tidak selalu bersama-sama ada dalam satu klausa. Kadang-kadang satu klausa hanya terdiri dari S dan P kadang terdiri dari S, P dan O, kadang-kadang terdii dari S, P, pel dan ket. Kadang-kadang terdiri dari P saja. Unsur fungsional yang cenderung selalu ada dalam klausa ialah P.
a.       S dan P
Contoh : Budi  tidak berlari-lari  Tidak berlari-lari  Budi
                   S              P                               P                  S
Badannya  sangat lemah Sangat lemah badannya
       S                P                          P                    S
b.      O dan Pelengkap
P mungkin terdiri dari golongan kata verbal transitif, mungkin terdiri dai golongan kata verbal intransitif, dan mungkin pula terdirri ari golongan-golongan lain. Apabila terdiri dari golongan kata verbal transitif, diperlukan adanya O yang mengikuti P itu.
                   Contoh :
                   Kepala Sekolah akan menyelenggarakan pentas seni.
                                 S                      P                              O
                   Pentas seni akan dislenggarakan  kepala sekolah
                            S                   P                                  O

c.       Keterangan
Unsur klausa yang tidak menduduki fungsi S, P, O dan Pel dapat diperkirakan menduduki fungsi Ket. Berbeda dengan O dan Pel yang selalu terletak di belakang dapat, dalam suatu klausa Ket pada umumnya letak yang bebas, artinya dapat terletak di depan S, P dapat terletak diantara S dan P, dan dapat terletak di belakang sekali. Hanya sudah tentu tidak mungkin terletak di antara P dan O, P dan Pel, karena O dan Pel boleh dikatakan selalu menduduki tempat langsung dibelakang P.
Contoh :
             Akibat banjir  desa-desa itu  hancur
                       Ket                  S               P
             Desa-desa itu  hancur  akibat banjir
                          S               P                 O
2.      Analisis Klausa Berdasarkan Kategori Kata atau Frase yang menjadi Unsurnya.
Analisis kalusa berdasarkan kategori kata atau frase yang menjadi unsur-unsur klausa ini itu disebut analisis kategorional. Analisis ini tidak terlepas dari analisis fungsional, bahkan merupakan lanjutan dari analisis fungsional.
3.      Analisis Klausa Berdasarkan Kategori Makna dan Unsur-Unsurnya
Dalam analisis fungsional klausa dianalisis berdasarkan fungsi unsur-unsurnya menjadi S, P, O, Pel dan Ket dalam analisis kategorial telah dijelaskan bahwa fungsi S terdiri dari N, fungsi P terdiri dari N, V, Bil, FD, fungsi O terdiri dari N, fungsi Pel terdiri dari N, V, Bil dan fungsi ket terdiri dari Ket, FD, N.






3.2.3        Kalimat
Kalimat adalah satuan gramatik yang ditandai adanya kesenyapan awal dan kesenyapan akhir yang menunjukkan bahwa kalimat itu sudah selesai (lengkap).
a.       Ragam Kalimat
Berdasarkan jenisnya, kalimat dapat dibagi menjadi beberapa jenis:
1.      Kalimat Tunggal
Kalimat tunggal adalah kalimat yangt mempunyai satu subjek dan satu predikat serta mengandung satu maksud.
Contoh :
Koko pergi ke pasar
S          P        Ket
 Toni menanam biji jarak di kebun
              S        P              O           Ket
Berdasarkan predikatnya, kalimat tunggal terbagi atas:
a.       Kalimat nominal adalah kalimat yang predikatnya berupa kata benda.
Contoh: Ayahnya seorang pelukis.
Yang berbaju biru itu, Pak Yandi.
b.      Kalimat verbal adalah kalimat yang  predikatnya berupa kata kerja.
Contoh : Ani suka makan bakso.
               Rino belajar aritmetiak.
c.       Kalimat adjectival adalah kalimat yang predikatnya berupa adjektiva atau kata sifat.
Contoh : Soal ini sulit sekali.
Tekatnya sangat kukuh.
2.      Kalimat Majemuk
Kalimat majemuk adalah kalimat yag terdiri atas dua pola kalimat atau lebih. Kalimat majemuk tersusun dari beberapa kalimat tunggal. Kalimat majemuk dapat dibedakan atas:



a.       Kalimat majemuk setara/koordinatif.
Kalimat majemuk setara adalahkalimat yang pola-pola kalimatnya memiliki kedudukan yang sederajat. Berdasarkan kata penghubungnya, kalimat majemuk setara terbagi lagi menjadi beberapa bagian yaitu:
1.      Kalimat majemuk penjumlahan, ditandai oleh kata hubung dan, lalu, kemudian, dan sebagainya.
Contoh:
Pak Heru membacakan soal dan siswa mendengarkan dengan saksama.
2.      Kalimat majemuk pemilihan, ditandai oleh kata hubung atau.
Contoh : Kamu maupesan soto ayam atau soto sapi.
3.      Kalimat majemuk pertentangan, ditandai oleh kata hubung tetapi dan melainkan.
Contoh : Ayah sering menasihatinya, tetapi dia tetap tidak mau berubah.
b.      Kalimat Majemuk Bertingkat/ Subkoordinatif.
Kalimat majemuk bertingkat adalah kalimat yang mengandung dua pola kalimat atau lebih yang tidak sederajat. Salah satu pola menduduki fungsi utama kalimat, yang lazimnya disebut dengan induk kalimat, sedangkan pola yang lain yang lebih rendah kedudukannya disebut anak kalimat.
Fungsi itu sekaligus menunjukan relasi antara induk kalimat dan anak kalimat. Kalimat majemuk bertingkat terbagi menjadi:
1.      Kalimat majemuk hubungan waktu, ditandai oleh kata hubung setelah, sewaktu, sejak, mankala, ketika, dan sebagainya.
Contoh : Ia menjadi sebatang kara` sejak ayah dan ibunya meninggal.
2.      Kalimat majemuk hubungan syarat, ditandai oleh konjungsi jika, seandainya, andaikan, asalkan, apabila.
Contoh : Kamu boleh membeli sepeda asalkan nilai rapormu bagus.  
3.      Kalimat majemuk hubungan tujuan ditandai oleh konjungsi agar, supaya, dan biar.
Contoh : Minumlah obat itu agar kamu cepat sembuh.
4.      Kalimat majemuk hubungan konsesif, ditandai oleh konjungsi walaupun, meskipun, sekalipun, biarpun, kendatipun  dan sungguhpun.
Contoh:
Dia tetap teguh pada pendiriannya walaupun setiap orang menantangnya.
5.      Kalimat majemuk hubungan perbandingan, ditandai oleh kata penghubung daripada, ibarat, seperti, bagaikan, laksana, sebagaimana.
Contoh: Daripada kamu duduk-duduk saja, lebih baik kamu bantu ibumu merapikan taman.
6.      Kalimat majemuk hubungan penyebaban, ditandai oleh kata penghubung sebab, karena, oleh karena.
Contoh : Saya tidak jadi berangkat ke Medan karena ada pekerjaan yang harus segera diselesaikan di sini.
7.      Kata majemuk hubungan akibat, ditandai oleh kata penghubung sehingga, sampai-sampai, maka.
Contoh :
kamu terlalu asyik menonton film sehingga lupa sholat.
8.      Kata majemuk hubungan cara, ditandai oleh kata penghubung dengan.
Contoh:
Gelandangan itu tidur di emperan toko dengan beralaskan koran.
9.      Kata majemuk hubungan sangkalan, ditandai oleh konjungsi seolah-olah, seakan-akan.
Contoh:
Dia diam saja seakan-akan dia tidak mengetahui persoalan yang terjadi.
10.  Kalimat majemuk hubungan kenyataan, ditandai oleh konjungsi padahal, sedangkan.
Contoh:
Pura-pura tidak tahu padahal dia tahu banyak.
11.  Kalimat majemuk hasil, ditandai oleh konjungsi makanya.
Contoh :
Kamu susah sekali makan, makanya lambungmu sering sakit.
12.  Kalimat majemuk hubungan penjelasan, ditandai oleh kata penghubung bahwa, yaitu.
Contoh :
Kamu harus tahu bahwa kamu adalah putera Pak Sanjaya.
13.  Kalimat majemuk hubungan atributif, ditandai oleh konjungsi yang.
Contoh :
Pemuda yang berdiri di dekat pohon itu, kekasih Andria.
c.       Kalimat Majemuk Campuran
Kalimat majemuk campuran adalah gabungan antara kalimat majemuk setara dengan kalimat majemuk bertingkat.
Contoh :
Artis cantik itu hanya bisa diam lalu pergi begitu saja ketika beberapa wartawan menanyainya.






3.      Kalimat Langsung
Kalimat langsung adalah kalimat yang menirukan ujaran orang lain.
 Contoh :
Ibu berkata “Saya tidak senang melihat rambut gondrong”.
4.      Kalimat Tidak Langsung
Kalimat tidak langsung adalah kalimat yang menyampaikan kembali ujaran orang lain.
Contoh:
Ibu mengatakan bahwa Ia tidak senang melihat rambut gondrong.
5.      Kalimat Aktif
Kalimat aktif adalah kalimat yang subjeknya menjadi pelaku. Ciri utama kalimat aktif adalah predikatnya berupa kata dasar atau berimbuhan me(N)- dan ber-.
Contoh :
Ibu sedang membuat martabak telur.
Andika senang makan kerang.
Medi tinggal di jalan Solontongan.
Berdasarkan hubungan antara predikat dan objeknya, kalimat aktif terbagi menjadi:
a.       Kalimat aktif transitif, adalah kalimat aktif yang predikatnya mutlak membutuhakan objek.
Contoh :
Andre memperkenalkan Hendra kepada teman-
                        P                 O        
temannya.
b.      Kalimat aktif semitransitif, adalah kalimat aktif yang predikatnya memerlukan pelengkap.
Contoh: Negara Indonesia berlandaskan hukum.
                                                       P                     Pel
c.       Kalimat aktif dwitransitif, adalah kalimat aktif yang predikatnya membutuhkan objek dan pelengkap.
Contoh : Petugas itu memperbolehkan saya merokok di
                                             P                   O         Pel
ruangan ini.
6.      Kalimat Pasif
       Kalimat pasif adalah kalimat yang subjeknya dikenai pekerjaan.
Ciri-ciri kalimat pasif adalah sebagai berikut:
a.       Predikatnya berisi kata kerja berawalan di-, ter-, dan kofiks
ke-an.
Contoh :
Ina kehujanan tadi malam.
b.      Bentuk diri atau persona ku-, kau-.
Contoh :
Coba kau lihat bunga ini.
Kalimat aktif dapat diubah menjadi kalimat pasif. Caranya adalah sebagai berikut: 
a.       Tukarkan pengisi subjek (S), dengan pengisi objek (O).
b.      Ganti awalan me- dengan di- pada predikat.
c.       Tambahkan kata oleh di belakang predikat (manasuka).
Contoh:
Pemerintah mencanangkan Progam Indonesia Sehat 2010. (Aktif)
S                    P                               O
Progam Indonesia Sehat 2010 dicanangkan (oleh) pemerintah. (Pasif)
                                  O                    P                                 S
      Jika subjek pada kalimat aktif berupa kata ganti aku, saya, kami, kita, engkau, kamu, anda, dia, beliau, atau mereka. Berlaku kaidah berikut:
a.       Ubah pola SPO menjadi OSP.
b.      Hapus awalan meN- dari P
c.       Rapatkan S dan P tanpa kata pemisah apapun. Jika semula mula predikatnya mengandung kata bantu seperti akan, dapat, atau kata ingkar tidak, letakan kata-kata tersebut sebelum S.
d.      Gantikan aku dengan ku- dan engkau dengan kau (manasuka).
Contoh: Mereka sedang menyelesaikan tugas yang sangat mulia.
                   S                     P                                  O
 (aktif)
Tugas yang sangat mulia sedang mereka selesaikan. (Pasif)
7.      Kalimat Mayor
      Kalimat mayor adalah kalimat sekurang-kurangnya mejangandung dua unsur pusat, dapat berupa S-P, S-P-O atau S-P-O-K.
Contoh :
Saya mengantuk.
Presiden berkunjung ke Australia.
Saya meminjam novel dari perpustakaan.
8.      Kalimat Minor
       Kalimat Minor adalah kalimat yang mengandung satu unsure pusat. Unsur  pusat tersebut biasanya berupa predikat.
Contoh :
Pergi!
Tidur!
Minggu depan.
Berdasarkan fungsi dan tujuannya, ragam kalimat dibedakan atas:
1.      Kalimat Berita
Kalimat berita adalah kalimat yang isinya memberitahukan suatu kejadian atau suatu keadaan. Dalam bentuk tulisan kalimat berita diakhiri dengan tanda titik (.), sedangkan dalam bentuk lisan, nadanya naik di akhir kalimat.
Contoh: Harga BBM akan dinaikkan mulai bulan Mei 2008.

2.      Kalimat Perintah
Kalimat perintah adalah kalimat yang berisikan perintah atau seruan untuk melakukan sesuatu. Kalimat berita dalam bentuk tulisan diakhiri tanda seru (!) atau titik (.).
Ciri-ciri kalimat perintah:
a.       Predikatnya menggunakan partikel –lah.
b.      Dapat menggunakan kata tolong, coba, atau silakan untuk memperhalus kalimat.
c.       Kalimat perintah larangan sering didahului oleh kata jangan.
Contoh : Jangan bermain di sini!
Tulislaah namamu di kertas ini!
Tolong ambilkan kertas itu!
3.      Kalimat Tanya
Kalimat Tanya adalah kalimat yang berisikan pertanyaan seseorang kepada orang lain.
Cara membuat kalimat tanya:
a.       Membalikkan urutan kata lalu ditambah partikel –kah.
Contoh :
Kakak membeli mobil baru.
Menjadi : Membeli mobil barukah kakak?
b.      Menggunakan kata tanya apa, siapa, beberapa, kapan, mengapa, bagaimana, di mana, dan sebagainya.
Contoh : Kapan kamu datang?
Bagaimana cara menanam jagung?
c.       Menambahkan partikel –kah pada kata tanya.
Contoh : Dimanakah dia berada?
Siapakan pemenang pertandingan sepak bola kemarin?
d.      Menggunakan kata bukan atau tidak.
Contoh : Sepatu ini milikmu, bukan?
Kamu ini serius tidak?

e.       Mengubah intonasi kalimat.
Contoh :
Rino sedang tidur.
Menjadi : Rino sedang tidur?
4.      Kalimat Seru
Kalimat seru adalah kalimat yang mengungkapkan perasaan.
Contoh : Wah, luar biasa pertandingan itu.
5.      Kalimat Empatik
Kalimat empatik adalah kalimat yang memberikan penegasan khusus kepada subjek.
Contoh : Kami lah yang terlambat datang.




















BAB IV
PENUTUP

4.1 Simpulan
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa fungsi sintaksis adalah subjek, predikat, objek, pelengkap dan keterangan. Sintaksis terdiri dari frasa, klausa, dan kalimat. Dari frasa, klausa dan kalimat memiliki pengertian dan jenis-jenisnya.
Frasa merupakan gabungan dua kata atau lebih yang menempati satu fungsi dan tidak melebihinya. Sedangkan klausa merupakan unsur kalimat yang mewajibkan adanya dua fungsi sintaksis, yakni subjek dan predikat sedang yang lainnya tidak wajib. Untuk kalimat yaitu satuan gramatik yang ditandai adanya kesenyapan awal dan kesenyapan akhir yang menunjukkan bahwa kalimat itu sudah selesai (lengkap).
4.2 Saran
Dengan disusunnya makalah “sintaksis” ini kami mengharapkan pembaca dapat mengetahui kajian sintaksis dan pembaca dapat mengetahui sebenarnya sintaksis itu erat hubungannya dengan bahasa yang kita gunakan sehari-hari.
Makalah ini kami susun hanya berdasarkan sumber-sumber yang kami dapatkan dan makalah ini mungkin masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, jika pembaca mendapatkan sumber-sumber lain yang dapat mendukung perbaikan makalah ini, kami selaku penulis mengucapkan terima kasih.











DAFTAR PUSTAKA

Blinksastrakumaster. 2011. Sintaksis. Diunduh 15 September dari http://blinksastrakumaster1988.blogspot.com.
Zaenal Arifin dan Junaiyah. 2008. Sintaksis. Jakarta: Grasindo
Kailani Hasan. 1983. Morfologi dan Sintaksis Bahasa Melayu Riau. Jakarta: Pusat
     Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
 M. Asfandi Adul. 1990. Morfologi dan Sintaksis Bahasa Bulungan. Jakarta :
               Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
Nur Khairinnisa. 2011. Konsep dan Jenis-Jenis Frasa. Diunduh 15 September 2012 dari http://www. Blogger.com.
Rachmadrivai. 2011. Sintaksis Bahasa Indonesia (frasa). Diunduh 15 September 2012 dari http://rachmadrivai.wordpress.com.
Diana Nababan. 2008. Intisari Bahasa Indonesia. Jakarta : Kawan Pustaka.
Henry Guntur Tarigan. 1984. Pengajaran Sintaksis. Bandung: Angkasa.


















Tidak ada komentar:

Poskan Komentar