Rabu, 12 Desember 2012

SINOPSIS NOVEL JANGAN BIARKAN SURAU INI ROBOH


JANGAN BIARKAN SURAU INI
ROBOH







*            Sinopsis Novel
Judul                   : Jangan Biarkan Surau  ini Roboh     
Pengarang            : Taufiqurqhmqn Al-Azizy    
Penerbit               : DIVA Press (Anggota IKAPI)
Tahun Terbit        : 2009
Jumlah halaman  : 443
ISBN                   : 979-963-739-2
Tokoh novel        : -Ibrahim
     -Kiai Ahmad
     -Yusuf
     -Sarah
     -Partinah
     -Ayah Yusuf dan Ibrahim
     -Ibu Yusuf dan Ibrahim
     -Ayah Sarah
     -Gio
     -Jadul
Sinopsis:
Sebagai kaum muslimin yang beriman sudah selayaknya tersentuh hatinya ketika melihat surau-surau yang bisa dibilang jamaahnya mulai pensiun. Seperti halnya surau milik Kiai Ahmad yang kini hanya beberapa orang saja yang masih mau sholat berjamaah dan belajar mengaji di surau ini. Dulunya surau ini banyak jamaahnya. Tetapi lain dulu lain pula sekarang,  kini tinggal Ibrahim dan Sarah saja yang mau belajar mengaji di surau ini. Bahkan Yusuf yang dulunya rajin mengaji juga sudah ingin mengambil pensiun. Yusuf semakin jarang mengaji di surau Kiai Ahmad. Tetapi semua itu justru memicu Ibrahim untuk terus menjaga surau yang hampir roboh karena dinding yang mulai lapuk juga jamaah yang mulai lapuk.
Ketika pemuda lain berusaha mencari ridho Allah, tetapi lain lagi yang dilakukan Partinah. Dia malah mencoba hal yang dibenci Allah. Partinah mencoba bunuh diri dengan meloncat kedalam jurang. Hal itu dikarenakan Partinah tidak sanggup memenuhi keinginan simboknya untuk menjadi seorang TKW. Seluruh warga Seworan dibuat gempar oleh peristiwa itu. Untunglah saat itu yang terluka bukanlah Partinah tetapi justru Ibrahim yang terluka parah. Kepala Ibrahim terbantur batu di Kali Serang ketika menangkap partinah dari atas tebing. Akibatnya Ibrahim mengalami koma dalam beberapa hari. Partinah sangat merasa barsalah atas peristiwa itu.
Musibah yang menimpa Ibrahim membuat Partinah semakin dekat dengan Ibrahim. Mereka lebih sering berjalan berdua ke atas bukit selayaknya sepasang kekasih. Partinah mulai menganggap hubungannya dengan Ibrahim lebih dari teman. Partinah mencintai Ibrahim.
Sarah yang sudah lama menyimpan hati kepada Ibrahim semakin gundah dengan kabar itu. Sekian lamanya sarah menahan perasaan cintanya kepada Ibrahim dan kini wanita lain mendekati Ibrahim.
           Ibrahim menyadari bahwa cintanya terhadap Partinah juga melebihi cinta kepada seorang teman. Setiap bertemu dengan Partinah, Ibrahim selalu merasakan debar-debar cinta dihatinya. Dan Ibrahim pun berencana mengatakan hal itu kepada Partinah.
Sebagai seorang sahabat tentunya tidak harus ada yang ditutupi satu sama lain. Apalagi hal itu berkaitan dengan perasaan dan cinta pertama. Akhirnya, Ibrahim mengatakan semuanya kepada Sarah. Tentang perasaan cintanya kepada Partinah. Karena Ibrahim merasa Sarah juga telah mendapatkan cintanya. Ibrahim menganggap kedekatan Sarah dengan Yusuf lebih dari teman. Jadi Ibrahim menganggap bahwa Sarah dan dirinya telah sama-sama menemukan tambatan hati. Padahal semua itu salah.  Bagai di hantam petir hati Sarah mendengar hal itu. Tak sadar air mata Sarah membanjiri pipi kanannya. Untungnya saat itu malam hari, jadi tak terlihat oleh Ibrahim. Bukan hanya bercerita saja, bahkan Ibrahim meminta Sarah membantunya untuk mengatakan itu semua kepada Partinah. Hati Sarah semakin hancur oleh hal itu.
Sarah tidak bisa menerima kenyataan bahwa Ibrahim menyukai Partinah. Hingga terdengar kabar bahwa Sarah sakit parah. Tubuh Sarah semakin kurus dan lemah. Memang terkadang luka hati akan berimbas pada luka badan. Itulah yang saat ini dialami oleh Sarah.
Mendengar Sarah sakit parah, Ibrahim memutuskan menemui Kiai Ahmad. Karena dengan bertemu dengan beliau Ibrahim berharap mendapat petunjuk obat yang bisa menyembuhkan Sarah. Ternyata Ibrahim tak salah. Kiai tau bahwa Sarah sakit karena meredam cemburu di dadanya. Ibrahim merasa sakit Sarah karena dirinya. Ibrahim memutuskan menemani sarah selama dia sakit. Kekuatan cinta mengalahkan segalanya. Akhirnya Sarah sembuh dari penyakitnya, dan kembali sehat wal afiat seperti sedia kala.
Sarah terus merenung dan menyerahkan takdir cintanya kepada ilahi. Karena sesuatu itu datangnya dari ilahi, dan sesuai kehendak ilahi.
Hanya kepada-Mu kupasrahkan hidupku. Hanya di genggaman tangan-Mu benang-benang takdir cintaku. Tak ada daya dan kekuatan yang kumiliki, selain daya dan kekuatan yang Engkau curahkan. Tak ada kemampuan untuk menolak takdir-Mu, walau takdir itu akan menyakitkan bagi hidupku. (hlm.76)
            Janji itu harus ditepati. Begitulah yang harus di lakukan Sarah. Sarah menepati janjinya membantu Ibrahim menyatakan cintanya kepada Partinah. Tetapi apa kenyataan yang dilihat Sarah dan Ibrahim? Partinah bermesraan di bukit bersama Yusuf kakak Ibrahim sendiri. Hal itu merupakan pukulan berat bagi Ibrahim. Yusuf, kakak yang mengajarinya tentang cinta, Yusuf pula yang mengambil cinta Ibrahim darinya. Tapi sebenarnya di dalam hati  Partinah tidak mencintai Yusuf. Cinta Partinah hanya kepada Ibrahim dan itu tak berubah sedikitpun. Partinah hanya merasa ketika dia bersama Yusuf seakan dia bersama dengan Ibrahim. Itulah yang membuat hati Partinah menjadi tenang.
            Putus cinta yang dialami Ibrahim sama halnya dengan Sarah. Ibrah/im tidak mau keluar kamar, tidak makan, tidak minum, bahkan Ibrahim sangat membenci Yusuf. Meskipun Yusuf bersikap biasa saja kepada Ibrahim. Tetapi keadaan itu tidak berlangsung terus-menerus. Ketika Yusuf akan pergi ke kota, dia menyempatkan diri untuk  mencairkan suasana yang selama ini beku. Yusuf meminta maaf kepada Ibrahim.
            Partinah akhirnya menuruti permintaan simboknya untuk menjadi TKW ke Hongkong. Partinah dan Yusuf bersama-sama menuju parbatasan Dukuh dengan diantar oleh Sarah dan Ibrahim. Ketika itu sebenarnya Ibrahim belum bisa meredam rasa cintanya kepada Partinah. Ibrahim masih merasa cemburu oleh kata-kata manis yang diumbar Partinah untuk Yusuf.
Tak lama kemudian terdengar kabar bahwa usaha Yusuf di kota telah berhasil. Ayah dan Ibu Yusuf sangat bangga kepadanya. Yusuf memang bisa di bilang anak emas bagi kedua orang tuanya. Yusuf selalu disayang oleh kedua orang tuanya. Berbeda dengan Ibrahim yang sedikit disampingkan oleh kedua orang tuanya. Memang Yusuf berpikir lebih maju daripada Ibrahim. Setelah lulus sekolah Ibrahim hanya berkeinginan untuk mencangkul disawah. Dan setelah pulang menegakkan sholat di surau milik kiai Ahmad. Oleh karena itu orang tuanya lebih sayang kepada Yusuf ketimbang dengan Ibrahim.
            Hujan dan petir yang mengguyur dukuh seworan menyebabkan surau Kiai Ahmad hilang satu tiangnya. Melihat hal itu Kiai Ahmad dan Ibrahim merasa sangat sedih. Mereka baru akan memperbaiki surau itu esok pagi. Dengan mengambil sebagian kayu jati di kebun kiai Ahmad. Keesokan harinya Ibrahim langsung menuju kebun Kiai Ahmad. Ternyata yang ditunggu-tunggu tidak datang juga. Akhirnya Ibrahim mencoba menemui Kiai Ahmad di rumahnya. Namun, apa yang ditemuinya? Kiai Ahmad terbaring lemah di rumahnya. Ternyata Kiai Ahmad jatuh sakit. Ibrahim berusaha mencari obat untuk kiai Ahmad. Namun tidak sempat memberikan obat itu, Kiai Ahmad telah menghembuskan nafas terakhirnya. Kiai yang sangat disayanginya itu telah menghadap yang kuasa. Tetapi sebelum Kiai menghembuskan nafas terakhirnya, Kiai sempat menulis surat wasiat. Kiai memberikan surau beserta tanahnya kepada Ibrahim untuk dijaga agar jangan sampai roboh, baik bangunan maupun jamaahnya. Dan Kiai juga berpesan bahwa tanah dan kebun beliau diberikan kepada kerabatnya yang tinggal di dusun sebelah.
            Mendengar kabar itu hati Ibrahim dan Sarah sangatlah terpukul atas kematian orang yang telah mengajarinya mengaji, melantunkan ayat-ayat suci al-Quran dan menjadi imam di setiap sholat fardunya. Sampai-sampai Ibrahim tidak mau keluar kamar untuk makan, minum, bahkan Ibrahim jarang berbicara walaupun dengan orang tuanya sendiri. Ibrahim hanya berdoa dan mengurung diri di kamarnya. Melihat hal itu orang tuanya merasa sedih. Terutama ibunya. Ayah dan Ibu Ibrahim merasa anaknya lebih mencintai orang lain ketimbang orang tuanya sendiri. Melihat hal itu Ayahnya tidak tinggal diam. Pertengkaran yang membuat Ibrahim diusir dari rumah akhirnya terjadi. Meskipun Ibrahim telah menjelaskan bahwa yang di katakana ayahnya itu salah, tetapi itu tidak merubah keputusan ayahnya itu.
            Dipandangnya rumahnya dengan lelehan air mata. Ketika itu hujan sangatlah lebat. Ibrahim tak tau lagi kemana dia harus pergi. Ibrahim pun berteduh di bawah pohon dan akhirnya dia tertidur di bawah pohon itu. Pada saat itu Ibrahim melihat Kiai Ahmad sedang memotong beberapa pohon jati. Kemudian Ibrahim menemui Kiai Ahmad. Ketika itu Kiai berpesan untuk memperbaiki surau yang hampir robah oleh petir itu. Barulah tersadar bahwa semua itu hanyalah mimpi. Tetapi Ibrahim merasa bahwa mimpi itu sangatlah nyata. Dan akhirnya Ibrahim memutuskan untuk tinggal di surau yang dianggap angker oleh warga dukuh Seworan setelah meninggalnya pengurus surau itu.
            Beberapa hari Ibrahim tak nampak, Sarah memutuskan untuk datang ke rumah Ibrahim. Sesampainya di rumah Ibrahim, Ibu Ibrahim bercerita tentang apa yang dialami Ibrahim. Sarah pun meminta ijin untuk pulang. Di perjalanan dia melihat surau yang terlihat angker itu. Dengan rasa takut, Sarah kemudian masuk ke dalam surau. Sarah tercengang ketika melihat Ibrahim di dalam surau itu. Dengan cekatan sarah langsung mengambil makanan ke rumahnya.
            Ibrahim tidak bisa terus-terusan bergantung pada orang lain. Dia memutuskan untuk mencari rumput untuk di jual ke penduduk setempat untuk ditukar dengan sebungkus nasi. Berawal dari hal itu, Ibrahim dapat menyambung hidupnya. Bukan hanya nasi bungkus yang didapat. Orang yang membeli rumput itu juga memberikan imbalan uang. Tetapi lama-kelamaan hal itu membuat keberadaan Ibrahim diketahui oleh banyak orang. Bahkan sampai ke telinga ayahnya. Hal itu membuat ayah Ibrahim semakin marah. Ayah Ibrahim datang ke surau itu dan mencaci maki perbuatan Ibrahim. Dia menganggap bahwa Ibrahim hanya ingin mempermalukan nama keluarga.
            Melihat ayahnya sudah mengetahui keberadaan Ibrahim, kini ia sudah mulai berani mengumandangkan suara azan untuk memanggil umat muslim untuk menunaikan sholat. Tetapi masih saja seperti ketika Kiai Ahmad masih hidup. Jamaah sholatnya hanya Sarah dan dua orang tua yang sudah berusia lanjut. Ketika telah usai sholat magrib sarah dan Ibrahim saling menyimak bacaan al-quran mereka. Ketika Ibrahim rapuh seperti ini, hanya Sarah yang mau menemani hari-harinya
            Duhai Sarah, jika agama memperbolehkan manusia menyembah manusia yang lain, pastilah aku akan bersujud di telapak kakimu. Akan kulakukan hal itu setiap hari. Tetapi, kita tahu bahwa hanya Allah satu-satunya Dzat yang wajib disembah. Maka, hanya doa syukur dan puji-pujian kepada-Nya saja yang bisa aku lakukan karena nikmat yang diberikan-Nya kepadaku untuk mencintaimu sebagaimana engkau mencintaiku. (hlm.263-264).
            Kata-kata itu di tuangkan dalam lembaran surat Ibrahim yang ditujukan kepada Sarah. Wanita mana yang tak tersentuh hatinya mendengar pernyataan itu. Sarah yang sudah lama memendam cinta kepada Ibrahim sangat terharu melihat pernyataan itu.
            Tidak kupejamkan mata malam itu sebab aku takut dalam tidurku aku menerima kenyataan yang sungguh berbeda. Setelah membaca suratmu, kini hatiku merasa tentram. Suratmu selalu ku baca setiap waktu. Suratmu dan tasbih yang engkau berikan sudah menjadi bagian dari hidupku sekarang. Dengan tasbih ini, ku panjatkan dzikir dan puji-pujian kepada Tuhan. Dan, dengan surat ini, kupasrahkan jiwaku kepada cinta kepadamu.(hlm. 263-264).
Seperti itulah balasan surat yang di berikan sarah kepada Ibrahim.
            Semakin hari Sarah dan Ibrahim semakin sering bersama. Mereka sering sholat berjamaah bersama. Mereka juga sering berduaan di surau, di luar surau, di bukit, dan di sungai. Hal itu memicu terdengarnya gosip-gosip miring di tengah perbincangan warga dukuh Seworan. Kabar itu akhirnya terdengar juga oleh ayah Sarah. Hati ayah Sarah demikian resah karena kabar kebersamaan Sarah dengan Ibrahim. Ayah Sarah menganggap Ibrahim tidaklah pantas bagi seorang sarah. Apalagi banyak warga yang menyayangkan hubungan mareka. Di tambah lagi ibu Ibrahim yang bersikeras ingin Ibrahim pulang ke rumah. Tetapi hal itu dilakukan semata-mata karena ibu Ibrahim tidak ingin malu atas perbuatan Ibrahim. Akhirnya, Ibrahim pulang ke rumah dengan syarat ibu dan ayahnya tidak mengungkit-ungkit serta menjelek-jelekan almarhum kiai Ahmad lagi dan memperbolehkannya untuk merawat surau kiai Ahmad.
           Pagi menjelang siang, Ibrahim melihat beberapa orang membongkar rumah kiai Ahmad. Ibrahim memperhatikan salah seorang dari orang-orang itu dan terlihat ada kerabat dari kiai Ahmad diantara mereka. Setelah melihat Ibrahim, salah satu dari kerabat kiai Ahmad mendekati Ibrahim. Kerabat kiai bermaksud untuk membongkar surau. Mereka menjelaskan bahwa tanah tempat surau itu dibangun adalah tanah milik Kang Narto, bukan tanah milik kiai Ahmad. Mendengar hal itu Ibrahim membantah. Ia merasa bahwa kiai telah memberikan amanah menjaga surau itu kepadanya. Oleh karena itu Ibrahim berkewajiban mempertahankan surau itu.
           Berbagai hambatan dan rintangan mulai menghadang Ibrahim. Setelah kerabat kiai Ahmad datang dan tidak berhasil membongkar surau itu, dihari lain datang pula tiga orang anak muda yang berbadan kekar ingin membongkar surau itu. Salah satu dari mereka bernama Gio. Ketika mereka akan membongkar paksa surau itu, datanglah Jadul dan teman-temannya. Datangnya Jadul memicu perkelahian diantara mereka. Akhirnya, tiga orang itu meninggalkan tempat itu.
           Dilain waktu, datang sekelompok orang yang akan menyerang dukuh Saworan. Truk bergemuruh dan membuat para warga merasa takut. Jadul dan teman-temannya telah bersiap-siap menghadapi serangan. Sementara Ibrahim melapor ke kantor polisi. Tetapi polisi datang terlambat. Polisi datang ketika telah terjadi pertumpahan darah di kedua belah pihak dan beberapa rumah telah dibakar. Kedua belah pihak akhirnya dibawa ke kantor polisi untuk menjalani pemeriksaan. Bukan hanya itu saja, surat wasiat yang berisi amanah kiai Ahmad juga telah di ambil oleh kerabat kiai Ahmad dengan paksa. Sehingga Ibrahim tidak bisa membuktikan kepada para warga atas amanah yang diberikan oleh kiai Ahmad.  Semua itu berujung pada di usirnya Ibrahim dari dukuh Saworan. Para warga menganggap semua musibah yang terjadi di dukuh Saworan berawal dari sikap Ibrahim yang bersikukuh mempertahankan surau yang di amanatkan kepadanya. Ketika peristiwa ini tidak ada lagi yang bisa membela Ibrahim bahkan Sarah dan Jadul juga tidak bisa lagi membela Ibrahim.
           Disaat genting seperti itu, Yusuf pulang ke dukuh Saworan dengan membawa mobil yang mewah. Yusuf kini seperti pangeran yang di puja-puja orang tua dan warga dukuh Saworan. Sedangkan  Ibrahim dianggap menoreh aib bagi keluarga.
           Ibrahim meninggalkan dukuh Seworan dan menempuh kehidupan ke kota. Di kota Ibrahim sering memberikan santapan rohani pada majelis ta’lim yang dibinanya. Tak sedikit orang yang berkonsultasi dengan Ibrahim. Hal itu membuat Ibrahim dikenal di majelis sekitar tempat tinggalnya.
           Meskipun Ibrahim jauh dari Sarah, tetapi Ibrahim selalu mengirimkan surat kepada Sarah. Hingga pada akhirnya ayah Sarah mengetahui bahwa Sarah masih berhubungan dengan Ibrahim. Melihat hal itu ayah sarah melarang putrinya untuk berhubungan dengan Ibrahim. Bahkan ayah Sarah berkeinginan untuk menjodohkan sarah dengan Yusuf. Surat yang dikirimkan Ibrahim sampai juga ke tangan ayah Sarah yang membuat Sarah tidak boleh kembali ke rumahnya lagi. Saat itu Yusuf mencoba menghibur Sarah. Setan memang tidak akan tinggal diam melihat dua orang anak muda yang sedang berduaan. Hingga mereka melakukan dosa besar yaitu berzina. Akibatnya Sarah hamil di luar nikah. Dan Yusuf tidak mau bertanggungjawab atas perbuatannya. Yusuf pergi entah kemana, tak ada seorangpun yang tau. Kini orang tua Sarah sangat malu melihat kenyataan itu.
           Ibrahim memutuskan untuk kembali ke dukuhnya. Ibrahim bermaksud untuk menjemput cinta dan menjalankan amanah kiai Ahmad untuk menjaga surau. Ibrahim pulang dengan menggunakan mobil mewah dan didalamnya  tampak beberapa ulama datang bersamanya. Rombongan itu singgah di masjid untuk melaksanakan sholat berjamaah di dukuh itu. Di masjid itu Ibrahim bertemu dengan Jadul. Jadul menceritakan tentang apa yang terjadi dengan Sarah. Tubuh Ibrahim melemas mendengar peristiwa itu. Kakak yang dipercaya untuk menjaga Sarah, kini malah menghamili Sarah.
           Berbulan-bulan lamanya Sarah menyiksa diri di kamarnya.sarah tak kuasa memerima semua yang terjadi kepadanya. Hal yang terjadi pada Sarah juga terjadi pada Ibrahim. Berminggu-minggu Ibrahim mengurung diri di kamarnya, tanpa makan, minum dan bicara. Badan Ibrahim semakin lama semakin mengurus. Memikirkan hal yang terjadi kepada dirinya.
           Mendengar Ibrahim sakit parah Sarah pun menemui Ibrahim untuk meminta maaf atas kesalahannya. Sarah telah mengingkari cintanya kepada Ibrahim. Apa boleh dikata, apapun yang terjadi Ibrahim telah memaafkan Sarah.
           Beberapa hari kemudian datang beberapa rombongan polisi memasuki halaman rumah Ibrahim. Ternyata yang di dalam mobil tahanan itu adalah Yusuf. Yusuf telah terlibat dalam pengedaran Narkotika Internasional. Yusuf meminta maaf untuk kedua kalinya kepada Ibrahim karena Yusuf tidak bisa menjaga Sarah selama Ibrahim pergi. Bahkan Yusuf  berbuat kesalahan yang teramat besar. Ibrahim memaafkan Yusuf asalkan Yusuf mau menikahi Sarah. Dan diputuskan akan diadakan prosesi pernikahan di penjara.
           Gema takbir berkumandang, hari itu adalah hari raya idul fitri. Pada hari itu diadakan prosesi pernikahan. Setelah acara pernikahan itu selesai, Ibrahim langsung terkulai lemah tak berdaya. Ibrahim berkata:
 “Tidak sempurna iman seorang manakala dia meninggal dalam keadaan masih membujang….” (hlm.473)
Partinah baru pulang dari Hongkong dan langsung menemui Ibrahim ketika mendengar bahwa Ibrahim jatuh sakit. Sesampainya di tempat Ibrahim terbaring, Haji Misbach memutuskan untuk menikahkan Ibrahim dengan Partinah. Setelah acara pernkahan itu Ibrahim meminta Partinah membacakan surah yasin disampingnya. Pada saat itu berhembus nafas terakhir Ibrahim dan terpejam untuk selamanya.
Karena Ibrahim telah meninggal dunia, Haji Misbach lah yang mengurus sengketa tanah kiai Ahmad. Dan ternyata tanah surau itu memang bukan milik kang Narto, tetapi milik kiai Ahmad.



                          *****


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar