Rabu, 12 Desember 2012

SINOPSIS NOVEL ROBOHNYA SURAU KAMI


ROBOHNYA SURAU KAMI









*               Sinopsis Novel
Judul                    : Robohnya Surau Kami
Pengarang            : A.A. Navis
Penerbit                : PT. Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit         : Tahun 2005
Jumlah halaman    : 148 (vi+142) halaman
ISBN                    : 979-403-046-5
Sinopsis           : Robohnya Surau Kami adalah novel yang didalamnya terdiri dari beberapa cerita pendek. Diantaranya:
v  Sub Judul : Robohnya Surau kami
Tokoh      :-Aku
-Kakek
-Haji Saleh
-Ojo Sidi
Sinopsis :
Seperti rumah yang di tinggal penghuninya. Surau yang dulunya digunakan untuk beribadah kini hanya dipakai untuk sekedar bermain anak-anak. Tidak ada lagi panggilan adzan, sholat berjamaah, dan lantunan ayat-ayat suci Al-quran. Bahkan jika ada ibu-ibu yang membutuhkan kayu bakar, tak segan-segan mengambil salah satu bagian dari tiang-tiang surau yang mulai lapuk dan hampir roboh. Tak ada lagi yang mau peduli terhadap surau tempat beribadah itu. Itulah pemandangan yang bisa dilihat dari surau seorang kakek setelah dia meninggal. Tetapi sebagai garin kakek itu begitu di kenal. Orang lebih mengenalnya sebagai pengasah pisau.
Sebelum kakek meninggal kakek sempat bercerita tentang Ojo Sidi. Ojo sidi adalah seorang pembual yang datang kepada kakek sebelum kakek meninggal. Ojo sidi mengisahkan tentang kejadian Haji Shaleh di akhirat ketika dia dimasukan dalam neraka dan Haji Saleh tidak menerimanya karena Haji Shaleh merasa dia adalah seorang yang rajin beribadah. Tak sekalipun Haji Shaleh meninggalkan kewajiban Tuhan. Bahkan setiap waktunya hanya untuk menyembah Tuhan. Kemudian Haji Saleh datang menuntut kepada Tuhan atas semua apa yang dia kerjakan. Ternyata apa yang dikerjakan itu justru salah. Haji Saleh tidak seharusnya hanya mementingkan dirinya sendiri untuk beribadah dan sembahyang setiap waktunya demi masuk surga. Dan melupakan kewajibannya kepada anak dan isrtinya sehingga jatuh dalam kemelaratan. Itu yang membuat haji Saleh di masukan dalam neraka. Padahal di dunia ini hidup berkaum, bersaudara, tetapi Haji Saleh tidak mempedulikan mereka sedikit pun.
Keesokan harinya, kakek ditemukan meninggal dengan keadaan yang mengenaskan. Ia menggorok lehernya dengan pisau cukur. Ternyata Ojo Sidi telah meninggalkan pesan kepada istrinya untuk membelikan tujuh lapis kain kafan  untuk kakek.

                                        ***

v  Sub Judul     : Anak Kebanggaan
Tokoh          : -Ompi
-Indra Budiman
-Aku
Ompi seorang yang lumayan memiliki banyak harta karena pada masa mudanya dia bekerja menjadi klerk di kantor Residen. Setelah kematian istrinya seluruh perhatian Ompi hanya tercurah pada anak laki-laki semata wayangnya itu. Ompi berharap anak semata wayangnya itu menjadi orang yang sukses. Karena sifatnya itu anaknya sering berganti-ganti nama. Mulanya anaknya diberi nama Edward. Tetapi karena raja Inggris turun tahta diubahlah namanya menjadi Ismail. Dan ketika terdengar kabar bahwa seorang yang bernama Ismail dihukum karena mencuri dan membunuh, diubahlah nama anaknya itu menjadi Indra Budiman. Tetapi sang anak meminta namanya diubah menjadi Eddy. Saat itu Ompi marah. Tetapi karena anaknya meminta nama itu maka Ompi menuruti kemauan anaknya itu. Asalkan nama belakangnya tetap ada tambahan Indra Budiman. Ompi juga bercita-cita suatu saat nanti nama Indra Budiman akan mendapat tambahan dokter, sehingga menjadi Dr.Indra Budiman.
Keinginan itu membuat Ompi menjadi sombong dan yakin bahwa anaknya akan menjadi seorang dokter. Apalagi ketika Indra Budiman telah berangkat ke Jakarta, Ompi semakin yakin bahwa anaknya akan berhasil. Rasa sombong Ompi makin menjadi ketika datang surat dari anaknya yang berisi bualan tentang prestasi. Ompi selalu membanggakan anaknya itu. Apapun yang dimiliki oleh orang lain Ompi yakin bahwa anaknya dapat memiliki lebih dari yang orang miliki. Telah banyak uang yang dikirimkan kepada anaknya itu demi mencukupi kebutuhan di Jakarta. Padahal semua orang tahu bahwa mimpi Ompi hanya akan menjadi mimpi belaka dan tidak akan pernah menjadi nyata. Bahkan ketika ada orang membicarakan perilaku anaknya di Jakarta, Ompi malah menganggap semua yang di katakana orang itu dusta dan hanya karena iri saja. Padahal pada kenyataannya anaknya memang bejat.
Ompi merasa anaknya menjadi idaman setiap gadis. Tapi pada kenyataannya hal itu sebaliknya. Hingga suatu ketika Ompi berkirim surat kepada anaknya dengan melampirkan foto-foto gadis. Dikatakan kepada anaknya bahwa foto-foto itu adalah foto gadis yang ingin meminang anaknya. Padahal semua itu hanya omong kosong. Tak ada seorang gadis pun yang datang melamar. Ompi tak peduli dengan foto-foto siapa saja yang dia kirim, bahkan foto gadis yang telah meninggal sekalipun. Seperti Ompi yang percaya atas bualan anaknya, si anak juga percaya terhadap bualan Ompi.
Tapi rupanya Tuhan masih mengasihani ayah yang sayang terhadap putranya. Persis disaat Ompi kehabisan foto, surat dari anaknya tak pernah datang lagi. Ompi sangat berharap mendapat surat dari anaknya. Telah banyak surat yang dikirimkan Ompi kepada anaknya. Namun tak satupun balasan yang diterima Ompi.  Hingga suatu hari ketika Ompi sudah putus asa, Pak Pos datang dengan tujuan mengembalikan surat-surat yang dikirimkan kepada anaknya.
Semenjak kejadian itu tubuh Ompi makin melemah dan akhirnya jatuh sakit. Ompi sangat berharap anaknya kembali dengan gelar dokter. Hingga suatu hari datanglah telegram. Ompi tidak mau telegram itu dibacakan karena Ompi takut lemas dalam kebahagiaan bahwa anaknya telah menjadi dokter. Tapi pada kenyataannya bukan itu isi dari telegram itu. Telegram itu memberitahukan bahwa Indra Budiman telah meninggal dunia.
Dan telegram itu dibawa ke bibirnya. Diciumnya dengan mesra. Lama diciumnya seraya matanya memicing. Selama tangannya sampai terkulai dan matanya terbuka setelah kehilangan cahaya. Dan telegram itu jatuh dan terkapar dalam pangkuannya. (Hal.26)

                                                    ***
v  Subjudul : Nasihat-nasihat
Tokoh     : -Hasibuan
-orang Tua
-Perempuan
Sinopsis :
Hasibuan seorang pemuda yang menumpak di kamar depan rumah seorang bapak, menceritakan kesulitan yang dialaminya. Hasibuan bertemu seorang perempuan di dalam sebuah bis yang ditumpanginya. Ketika Hasibuan akan berpisah dengan gadis itu, dia bertanya kemana gadis itu akan pergi. Tetapi gadis itu justru menjawab dengan tegas kemana Hasibuan pergi kesana pula gadis itu pergi. Orang tua itu menganggap bahwa gadis itu sudah tentu gila. Orang tua itu kemudian menyarankan agar Hasibuan tidak menemui gadis itu lagi. Dan Hasibuan mengikuti saran itu.
Ketika Hasibuan tidak lagi menemui gadis itu, malah gadis itu yang kemudian datang kepada Hasibuan. Gadis itu datang ke kantor Hasibuan. Hingga semua orang membicarakan Hasibuan. Hasibuan bermaksud untuk mengembalikan gadis itu ke desa. Bahkan dia memberikan ongkos untuk pulang. Tetapi gadis itu tidak mau. Gadis itu malah terus menangis didekat Hasibuan dan tidak berkata apa-apa. Karena Hasibuan tidak tahu apa lagi yang harus dia lakukan akhirnya Hasibuan memutuskan untuk membawa kerumah kenalannya.
Gadis desa yang semestinya pemalu, tahu adat, dan berkesopanan tinggi tidak seharusnya berperilaku seperti itu. Begitulah nasihat yang diberikan orang tua itu kepada Hasibuan. Hasibuan mengikuti nasihat orang tua itu.
Setelah 3 hari lamanya tidak menemui orang tua itu untuk meminta nasehat, orang tua itu menganggap masalah Hasibuan sudah selesai. Tapi kemudian pada hari keempat Hasibuan datang dengan hati gundah. Dia menceritakan kegundahannya karena seorang gadis. Orang tua itu kemudian menyarankan Hasibuan untuk membawa gadis itu ke rumahnya.
Betapa senang hati orang tua itu ketika melihat perempuan pilihan Hasibuan. Dan orang tua itu menyarankan untuk lekas menikahi perempuan itu. Tetapi ketika tahu ternyata perempuan itu adalah perempuan yang ditemuinya di dalam bis, bagai tersengat listrik hati orang tu itu. Terlihat dengan gelagatnya membanting pintu kamar tidurnya.
v  Subjudul   : Topi Helm
Tokoh        :-Gunarso/Tuan O.M./Si Topi Helm
-Pak Kari
-Masinis
Sinopsis :
Tuan Gunarso terkenal sangat ditakuti oleh orang-orang yang bekerja satu bengkel dengannya. Karena Gunarso sering menggunakan topi besar, kemudian Gunarso dijuluki dengan Si Topi Helm. Padahal postur tubuh Gunarso pendek, tetapi tetap terlihat berwibawa. Ketika Si Topi Helm datang, orang-orang yang berkerumun langsung saja tunggang langgang meninggalkan tempat itu.
Tuan Gunarso mengepak barang bawaannya karena dia akan berpindah tugas. Tetapi ada satu barang yang terlupakan. Barang itu adalah Topi Helm. Karena tempat sudah tidak cukup untuk mengepak topi itu, akhirnya Gunarso memutuskan untuk memberikan topi itu kepada anak buahnya. Topi itu berpindah dari satu kepala ke kepala lainnya. dan kebetulan Pak Kari yang sama pendeknya dengan Tuan O.M. memiliki kepala yang sama besarnya pula, sehingga topi helm itu  menjadi hak Pak Kari.
Dengan memakai topi helm milik Tuan O.M. itu, Pak Kari merasa dirinya melambung tinggi setinggi rumah dan badannya membesar seperti gajah. Terlebih lagi Pak Kari yang seorang tukang rem itu takkan membiarkan  topi itu terkena hujan setitikpun. Pak Kari merasa dirinya sebagai Gunarso. Dan pak Kari pun mendapat julukan Si Gunarso.
Peristiwa tragis menimpa Pak Kari. Ketika itu Pak kari mendapat tugas bekerja pada gerbong paling belakang. Saat itu rem kereta api mengalami permasalahan yang harus ditangani Pak Kari. Ketika pak Kari memperbaiki rem, tanpa disadari kereta api memasuki jembatan yang berpelengkung. Lalu Pak Kari menarik badannya agar tidah tersambar pelengkungan itu. Tapi ternyata topi helm yang dipakainya jatuh. Dan Pak Kari mencoba mengambilnya.
Ketika kereta api sampai di setasiun, Pak kari sudah tidak ada ditempatnya. Salah seorang tukang rem terakhir kali melihat pak Kari sedang jongkok memperbaiki rem. Orang-orang mengira Pak Kari tersambar pelengkungan seperti peristiwa beberapa tahun silam. Yang ditemukan tidak bernyawa lagi.
Kemudian orang-orang itu memutuskan untuk kembali ke tempat Pak Kari menghilang. Satu kilometer dari jembatan ditemukan Pak Kari dengan badan yang basah kuyup dan dengan jalan yang gontai.  Hanya karena menyelamatkan topi helmnya yang jatuh, pak Kari akhirnya dipecat dari pekerjaannya. Bahkan topi helm milik pak kari itu kemudian dibakar oleh si Masinis.  Bukan hanya itu saja pengorbanan pak Kari untuk topi helmnya. Dihari selanjutnya pak Kari melihat seorang mandor memakai topi helm yang sama dengan miliknya. Melihat hal itu pak Kari teringat peristiwa topi helm yang dibakar oleh si Masinis. Ternyata api dendam pak Kari tak kunjung padam yang akhirnya dilampiaskan dengan melempar bara arang ke muka masinis yang membakar topi helmnya. Semenjak itu kehidupan yang gelap harus dijalani oleh mesinis itu. ketika dilihatnya topi helm yang bertengger di kepala mandor itu, rasa bangga muncul dihati pak kari. Dia merasa telah melaksanakan pembalasan yang setimpal.
                                                        
                                                             ***       




v  Subjudul       : Datangnya dan Perginya
Tokoh           : -Masri
-Ayah Masri
-Arni
-Iyah
Sinopsis      :
Hidup seorang ayah menjadi berantakan ketika dia ditinggal istrinya menghadap yang kuasa. Itulah yang dialami Ayah Masri. Sepeninggalan istrinya itu tak ada satupun wanita yang mampu menggantikan ibu Masri. Meskipun berulang kali Ayah Masri menikah dengan wanita lain, tapi kedudukan Ibu Masri tak pernah bisa tergantikan. Hal tersebut malah membuat hidup ayah Masri semakin berantakan. Terlebih lagi istri baru yang dinikahinya itu suka mengatur-atur kehidupan ayah Masri yang kemudian menimbulkan bayak pertengkaran dalam rumah tangga keduanya. Istri barunya itu kemudian diceraikannya dalam keadaan hamil. Karena merasa tak cocok dengan beberapa wanita, ayah Masri lebih suka bergonta-ganti pasangan yang sengaja dibayar. Masri yang penasaran tentang apa yang dilakukan ayahnya itu kemudian melihat ayahnya melakukan perbuatan intim dengan wanita bayaran. Perbuatan yang dilakukan Masri mendorong ayahnya untuk mengusir Masri dari rumahnya.
Orang tua yang merasa bersalah itu, akhirnya menyadari kesalahannya. dan bertobatlah ayah masri. Harta bendanya dijual untuk disedekahkan. Masri yang telah pergi dari rumah itu tak pernah sedikitpun melupakan ayah kandungnya. Beberapa surat telah dilayangkan kepada ayahnya. Hingga Masri ingin ayahnya untuk datang ke rumahnya. Undangan itu dipenuhi ayah Masri.
Sesampainya di Rumah masri, yang ditemui ayah masri bukanlah anak yang dicarinya, melainkan Iyah, istri yang telah diceraikannya dalam keadaan hamil. Yang lebih mengagetkan lagi adalah Masri menikah dengan Arni, anak Iyah yang berarti anak kandung dari Ayah Masri sendiri. Hal tersebut menoreh ilemma di hati Ayah Masri. Di satu sisi hal itu melanggar ketentuan agama dan disisi lain pernikahan itu telah membuahkan dua orang anak, Masra dan Irma. Seorang ayah tak akan pernah tega  menghancurkan sebuah keluarga yang bahagia dengan mengatakan hal yang sebenarnya bahwa suami istri itu sedarah. Itu pula yang dilakukan Iyah selama ini. Iyah juga tak pernah mengatakan bahwa Masri da Arni itu sedarah. Kedua orang tua itu memutuskan untuk tidak mengatakan kenyataan itu kepada kedua anaknya. Biarlah Tuhan yang menghukum atas kesalahan kedua orang tua itu.

                                           ***
v  Subjudul     : Dari Masa ke Masa
Tokoh         : -Saya
Sinopsis :
Keadaan sekarang dengan masa lalu sangatlah bertolak belakang. Dulu ketika seorang pemuda akan melakukan sesuatu ada saja nasehat ini dan itu yang harus didengar dari orang-orang yang lebih tua. Hal tersebut membuat dongkol pelakunya. Para orang tua takut jika apa yang dilakukan putra putrinya itu keliru jika tak meminta nasihat darinya.
Dalam semua kegiatan haruslah meminta nasehat kepada para orang tua. Seperti bikin sandiwara, ikut diskusi, mengadakan kursus, dan pameran. Jika tidak ikut, maka harus memanggul senjata.
Para prajurit jauga harus menerima ceramah yang panjang ketika akan pergi ke front. Ceramah itu sungguhlah menyiksa terlebih lagi harus digigit kepinding ketika duduk mendengarkan ceramah.
Lebih parahnya lagi ketika ada pemuda yang sukses. Pemuda itu makin direpotkan oleh para orang tua. Ada saja yang menggemborkan bahwa dia adalah anak asunya.
Akan tetapi anak-anak muda sekarang  berbeda jauh dengan orang-orang dulu. Pendidikan orang muda sekarang jauh lebih tinggi dan orang tua mereka yang kaya. Itu membuat mereka semakin dimanja oleh fasilitas yang berdampak buruk pada sikap pemuda jaman sekarang baik dari perkataan maupun perbuatan. Dulu pemuda seusia anak sekolah telah menjadi komandan battalion. Dan anak-anak SMA dulu telah bisa menjadi seorang guru bahkan direktur SMA swasta. Sedangkan anak-anak SMA sekarang tidak bisa berbuat apa-apa. Dari sudut ini, Indonesia ternyata tidak semakin maju.
Ternyata perlakuan orang-orang tua dahulu membawa dampakyang baik bagi pemuda jaman dahulu. Perlakuan orang tua jaman sekarang justru membuat pemuda-pemuda sekarang sulit terlepas dari sikap kekanak-kanakan.
***
v  Subjudul    : Pada Pembotakan Terakhir
Tokoh         : -Kakek Montok
-Maria
-Nenek
-Mak Pasah
-Ibu Upik
-Upik
-Ayah Upik
-Pak Cik
-Si Inah

Sinopsis    :
Waktu merupakan suatu ukuran yang tak mampu memisahkan ingatan dan kenangan akan peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi dalam kehidupan.  Meskipun waktu sudah berlalu, tetapi cerita ini tetap tumbuh dalam ingatan walaupun pelakunya sudah tiada lagi. Sebuah kisah yang benar-benar menggambarkan akan ketakutan anak jika ditinggal mati oleh sang ibu. Takut akan peristiwa ketirian yang menonjolkan fantasi kekejaman yang jarang ada, tetapi pernah ada.
 Ibu Upik selalu suka membotaki kepala anaknya sampai benar- benar terlihat licin yang dicukur oleh si tukang cukur bernama Kakek Montok. Semenjak  masih bayi, setiap  umur Upik bertambah setahun, ia selalu mendapatkan hadiah kepala botak. Pembotakan pertama kali merupakan perayaan tergemilang dalam segala perayaan untuknya. Semua orang berdatangan ikut senang disuguhi makanan lezat. Diikuti juga doa dari seorang lebai berjanggut panjang padahal belum pernah ke Mekah.
  Tapi di kala pembotakannya yang terakir, yaitu pada usianya menjadi tujuh tahun, sengaja tak dirayakan karena neneknya telah dikuburkan orang lima belas hari sebelumnya. Namun hadiah pembotakan itu terus berlanjut tanpa upacara dan pesta-pestaan. Hanya tiga orang saja yang hadir dalam upacara tersebut yaitu Kakek Montok, Maria, dan ia sendiri. Maria inilah yang menjadi bahan cerita celaka melalui upacara pembotakan itu. Maria dan Upik merupakan teman sepermainan. Rumah Upik dan Maria saling membelakangi dibatasi sebuah selokan yang besar sehingga untuk mendatangi rumah Maria, Upik harus jalan berbelok dahulu untuk  melewati sepuluh buah rumah. Upik dan Maria jarang bergaul karena rumah mereka berjauhan sehingga jarang Upik mengunjungi Maria. Walaupun Maria tiga kali sehari datang ke rumah Upik, itu hanya untuk menjajakan kue buatan Mak Pasah. Jika Upik sedang bermain di tepi selokan dan Maria sedang membung sampah disaat itu lah mereka menggunakan kesempatan untuk bermain-main bersama. Dan Upik langsung mengajari cara-cara bermain sembang, congklak, lore, dan basbal yang sebelumnya Maria tidak pernah kenal sehingga ia jadi tahu. Seperti biasanya setelah bermain dan Maria telah sampai di rumah terdengarlah suara pekik dan raungan Maria sepilu hati. Oleh karena itu tidak jarang ibu melarang meskipun hanya bercakap-cakap saja dengannya. Perilaku Mak Pasah kepada Maria sangat kejam memukulnya dengan keras setiap ia pulang sehabis menjajakan kue itu, suara pekik dan raungan Maria sepilu hati meminta ampun selalu terdengar oleh keluarga Upik dari rumahnya ia hanya bisa menangis menahan sakit yang ia rasakan. Maria hanyalah anak yatim piatu yang tinggal di rumah Mak Pasah hanya untuk menjajakan kue buatannya di sepanjang jalan. Kue Maria selalu laku dan orang suka membelinya karena orang tahu apabila kue itu tidak habis terjual maka  akan dipukuli oleh Mak Pasah.
Jika ibu ada di rumah, terjadi lagi keributan di rumah Mak Pasah ibu selalau menyuruh ke ruang depan hingga ia lupa akan kejadian di belakang rumah. Terkadang ibu bertanya bahwa aku jangan suka nakal. Maria anak yatim piatu karena itu ia di pukul. Sampai ibu menakutinya jika ia nakal maka ibu mati. Ketakutan itulah yang selalu membayang-bayang dipikiran Upik.
Pagi hari, Maria menjual penekuk, siang bubur delima dan sore limping. Tak perlu ia meneriakinya. Ia hanya datang ke rumah orang sudah tentu orang akan membelinya walaupun hanya sebuah. Ketika Upik pergi kerumah Maria bermaksud untuk membayar kue limping yang ia belikan, sampailah ia di ambang pintu dapur Mak Pasah, ia tak berani masuk karena  melihat Maria sedang dipukuli dengan menggunakan puntung api. Peristiwa itu terjadi sebelum hari pembotakan terakhir Upik, jadi artinya empat belas hari sesudah Nenek dikuburkan. Ketika kejadian itu Maria batuk-batuk dan mengeluarkan darah. Setelah dua minggu aku di rumah Pak Cik, yang dibawa oleh ayahnya ke kota kelahiran Upik, ibunya menjemputnya dan setelah ia pula ternyata Maria sudah tak ada lagi. Semenjak itu Upik tak pernah lagi mendapatkan jajan tiga kali sehari. Ibunya hanya membelikannya kue Si Inah setiap pagi. Mak Pasah sudah mencari anak semang lain untuk menjual kue-kuenya, tapi orang-orang kampung tidak ingin membeli kuenya lagi. Kejadian itu sudah dua puluh lima tahun berlalu, ibu Upik sudah lama meninggal, tapi Mak Pasah tidak lagi menjual kuenya. Kini ia beralih berdagang emas dan ia sudah kaya bersuami muda.
***  
v  Subjudul : Angin dari Gunung
Tokoh     :-Aku
-Nun
-Nenek

Sinopsis :
Sejauh mataku memandang, sejauh aku memikir, tak sebuah jua pun mengada. Semuanya mengabur, seperti semua tak pernah ada tapi, angin dari gunung itu berembus juga. Angin itu juga semuanya lewat tiada berkesan dan aku merasa diriku tiada. Angin dari gunung datang lagi menerpa mukaku. Aku masih tinggal dalam diamku, aku kira dia bekerja lagi. Aku tak pernah mau mengingatnya tapi, kini aku ingat lagi dan memandang jauh ke arah gunung, saat itu seperti kita sekarang. Kita duduk seperti ini juga tapi tempatnya bukan di sini. Aku masih ingat sekali kau menggenggam jariku erat sekali.
Aku biarkan dia tergenggam dan dalam tekanan genggamanmu, aku tahu kau mau bicara dan aku menunggunya, tapi kau tak berkata apa-apa. Aku jadi sentimental  dan hatiku berteriak, meneriakkkan seribu kenangan yang datang mengharu biru. Kucoba membuang segala kesenduan, tapi aku menjadi tambah tenggelam olehnya dan angin meniup lebih syahndu terasa. Serasa ada nyanyian iba besertanya.
“Kau punya anak, punya istri dari itu kau punya pegangan hidup, punya tujuan minimal, tapi yang terpenting kau punya tangan hingga kau dapat mencapai apa saja yang kau mau. Sebagai suami, sebagai ayah, sebagai laki-laki, sebagai manusia juga, seperti yang kita omongkan dulu, kau dapat mencapai sesuatu yang kau inginkan”.
 Alangkah indahnya hidup ini, kalau kita mampu berbuat apa yang kita inginkan, tapi kini aku tentu saja tak dapat berbuat apa yang kuinginkan. Masa mudaku habis sudah ditelan keberuntungan ini.  Semuanya mau berjuang membunuh musuh demi mendekatiku, tapi ketika musuh datang, aku kebetulan tak ada di sana, mereka lari kehilangan keberanian. Pernah juga sekali aku berpikir-pikir, bahwa hidup seperti itu tidaklah selamanya akan berlangsung. Suatu masa kelak akan berakhir juga dan kalau perang sudah usai, aku ingin bersekolah lagi dan yang aku tahu cuma tambah banyak ilmu, tambah banyak yang dapat diperbuat.
Matahari ketika itu sangat cerahnya. Bayangan pohon manggis bertelau-telau pada rumput hijau. Di kiriku dia duduk mengunjurkan kakinya. Kaki itu kaki yang dulu juga. Kaki yang pernah menggodaku dan sekarang kaki itu terhampar begitu saja. Aku tak dapat memandangnya lama-lama, karena kaki itu tidak bicara lagi kepadaku. Perasaanku tidak seperti dulu lagi. Justru itulah yang menyebabkan aku merasa dipilukan perasaanku sendiri.
Aku ingin memandangnya tepat, hendak mencoba menyatakan bahwa segalanya mempunyai alasan-alasan tertentu. Ingin aku menentang matanya, hendak meyakinkannya, seperti pernah kulakukan dulu kepadanya. Tidak tahu dibuntung awak, gadis kecil berkata lagi sambil memandang padaku dengan curiga dan kebencian. Aku jadi kaget, kalau gadis kecil semanis ini bisa bertingkah begitu terhadap Nun. Kupandang wajah Nun yang berubah-ubah tapi cepat-cepat disembunyikanya wajahnya dari pandanganku. Dia tidak menoleh lagi. Hilang di balik belukar itu dan belukar itu bertambah ria menari ditiup angin dari gunung. Angin dari gunung yang meniup belukar hingga bergoyang dan menari ria itu, angin itu juga yang meniup aku, meniup Nun, dan meniup gadis kecil itu.
***  
v  Subjudul : Menanti Kelahiran
Tokoh     :-Haris
-Lena
-Aisah
-Darma
-Perawat rumah sakit

Sinopsis :
Pada bulan Maret di sore hari seorang perempuan muda yang dari tadi duduk-duduk bersama suaminya di teras, sebagaimana dilakukannya bila sore hari. Haris dan Lena sama membisu oleh keasyikan masing-masing, memang laki-laki itu tidak peduli dengan istrinya yang ia tahu hanya membaca Koran setiap saat. Dulu, sebelum merka menikah laki-laki itu jarang berda dirumah, tapi semenjak mereka kawin dunianya adalah rumahnya sendiri. Lena memang senang mendapatkan seorang suami yang tidak keluyuran, tapi Haris itu berkeluyuran dengan bacaannya saja seperti Koran, majalah yang dilangganinya serta buku-bukunya. Saat Lena mengajak Haris untuk keluar berjalan-jalan, tapi Haris tidak mempedulikan perkataan Lena, Lena pun dengan suara keras mengulangi kata-katanya tapi laki-laki itu tetap saja membaca Koran. Diantara mereka hampir terjadi pertengkaran, tapi Haris kemudian memalingkan pandangannya ke Korannya lagi dan tak peduli dan pada saat itu Lena dalam keadaan hamil. Teringat akan kandungannya Lena, lalu ia ingat pula pada Aisah babunya yang baru dua  minggu, Aisah punya anak yang berumur satu tahun dan rupa anak itu begitu jelek seperti kera tidak sebanding dengan ibunya. Karena takut kelak anaknya seperti itu ia pun menahan amarahnya dan kebenciannya sesuai apa pesan dari ibunya dulu. Dua minggu yang lalu ketika Haris berangkat ke kantor, Lena sedang menyapu teras rumah datang seorang perempuan yang kumal, kotor dan menjijikan menurutnya membawa seorang bayi dan membimbing seorang anak lagi-laki yang kira-kira berumur sepuluh tahun yang dikatakan bisu bernama Darma, mereka ingin menjadi babu di rumah itu dengan penuh belas kasihan mereka memohon, karena Lena tidak mau di ejek oleh suaminya karena selalu ragu-ragu, ia mengambil keputusan sendiri menerima mereka untuk menunjukkan pada suaminya. Ketika Haris pulang alangkah tercengangnya ia melihat perubahan Lena yang telah mampu bertindak sendiri.
Melihat perubahan istrinya haris mengajak istrinya jalan-jalan sesuai permintaan Lena tadi dan mereka memilih untuk berjalan kaki saja. Berdasarkan pengalaman mereka yang menitipkan rumah kepada kerabatnya, ternyata beberapa minggu kemudian barang-barang dirumah mereka banyak hilang. Mereka pun meninggalkan rumah dengan menguncikan semua pintu dan hanya babunya Aisah yang ada dirumah. Waktu itu Lena benar-benar merasakan Haris adalah suami yang ideal seperti yang diharapkannya dulu dan ia pun merasa senang dengan suaminya lagi. Dalam perjalanan tiba-tiba Haris berhenti melangkah dan dipegangnya lengan istrinya seraya memandang sekumpulan anak-anak serta tukang becak bersukaan.  Lena yang tak senang dengan orang-orang seperti itu,ingin cepat pergi, tapi Haris masih tegak mengamati kelompok itu. Mereka merasa mengenali salah satu dari kelompok anak itu, Lena baru sadar ternyata selama ini mereka telah tertipu mentah-mentah ,ternyata anak yang dibawa babu yang bernama Darma itu tidak bisu. Kini harta bendanya telah lenyap dicuri komplotan penipu itu. Karena memikirkan harta bendanya yang ditinggalkan dirumah ia tak sadarkan diri.
Besoknya ketika membuka mata perutnya tidak gendut lagi, dan ternyata anak mereka telah lahir yaitu anak laki-laki persis seperti yang diinginkannya, tapi kelahiran bayi itu tidak sempurna dan pertumbuhan bayi itu pun akan tidak normal.

***

v  Subjudul : Penolong
Tokoh     :-Sidin
-Mak Gadang
-Orang Jepang
-Teman Sidin dalam gerbong  
Sinopsis :
Sidin berlari-lari sampai malam yang disertai hujan rintik-rintik bersama orang banyak yang juga iku berlari. Mereka berlari karena ada kereta api jatuh  di jembatan Lembah Anai. Peristiwa jatuhnya kereta api ini sama terjadi pada enam bulan yang lalu yang ketika itu hujan turun juga tapi peristiwa itu terjadi pada pagi hari. Kereta api yang sarat oleh penumpang meluncur di rel yang licin oleh hujan yang turun terus sejak siang pada jalan yang menurun di lereng lembah dan perbukitan, karena muatan yang berlebihan sehingga kereta meluncur kian kencang dan disebuah tikungan patah, lok lepas dari relnya mengenai lengkungan besi sebuah jembatan. Lengkungan itu ambruk dan lok pun terjun ke sungai yang mengalir deras karena hujan di hulu. Seluruh gerbong pun ikut terjun bertindihan, kecelakan tidak bias dicegah lagi. Dalam perjalanannya Sidin belum sampai-sampai di tempat tujuan karena ada larangan ia berbelok mencari jalan lain, tapi di tengah jalan ia tertahan oleh rombongan yang telah kelelahan mengangkut para korban, dan ia ikut menggotong korban ketempat penampungan di sebuah mesjid.
Ketika itu zaman pendudukan Jepang, tidak ada angkutan umum selain kereta api. Pada waktu Sidin sampai di tempat kecelakaan itu orang-orang belum banyak, lampu-lampu penerang jalan tak kuasa memberikan penerangan bagi orang-orang yang memerlukan pertolongan itu. Banyak korban yang dikeluarka dari gerbong yang terguling bertindihan di bawah jembatan yang ambruk itu dan tidak diketahui pasti apakah mereka masih hidup atau mati. Beberapa orang Jepang dengan pakaian militernya hanya memilih Jepangnya saja dan digotong ke tepi jalan raya diangkat cepat denag truk yang sudah disiapkan untuk diberi rawatan di rumah sakit terdekat. Sedangkan korban yang lainnya hanya diurus oleh bangsanya sendiri. Tiba-tiba terdengar da orang berteriak-teriak meminta tambahan tenaga di dekat gerbong-gerbong yang berimpitan itu. Secara spontan Siding berlari untuk membantu menggotong korban-korban kecelakaan itu, ditemukan seorang korban yang merintih dan diperlukan tiga orang untuk menggotongnya karena tubuhnya yang begitu berat. Salah satu yang menggotong itu kenal dengan korban yang namanya Mak Gagang yang dikenal sebagai pencatut dan lebih terkenal sebagai pencari perempuan untuk orang-orang Jepang dan mendapatkan upah dengan menjual barang-barang curian milik Jepang langganan itu, tapi nyawanya tak terselamatkan juga.
Mayat bertambah banyak yang bertumpuk di tempat Mak Gagang tadi. Rasa dingin malam kembali menerpanya baju nya yang tadinya basah oleh gerimis menjadi kering karena hujan telah berhenti. Sidin meresa lapar akhirnya ia menuruni tebing sungai di bawah jembatan teringat akan mayat-mayat yang terendam air sungai ia pun tidak jadi meminumnya, dan ia menuju ke kaki bukit akhirnya ditemukannya  pancuran air dan meminumnya dengan puas. Kemudian barulah ia dapat melihat situasi yang terjadi dengan jelas. Seorang serdadu Jepang menyuruh Sidin untuk memasuki gerbong paling bawah yang terjepit antara gerbong barang dan gerbong penumpang, ia memasuki gerbong itu melewati beberapa jendela yang telah dibongkar tiang pembatasnya, ketika masuk hanya ada seorang penolong yang berada di sana dan Sidin yang merupakan anak termuda yang menolong. Tiba-tiba terdengar suara mengerang-ngerang diantara tumpukan korban ternya seorang gadis kecil yang terjepit diantar tumpukan mayat, walau bagaimana pun usaha yang dilakukan tetapi gadis itu tidak dapat dilepaskan dari jepitan itu, teman Sidin yang bersama dengannya itu memotong kaki anak itu menggunakan kampak. Setelah itu anak itu diberikanya kesempatan kepada Sidin untuk menggotongnya keluar tapi ia terkejut melihat daging kaki anak itu terpisah dengan anggota tubuh kaki anak itu dan tidak disangka gerbong itu berguncang dan tumpukan mayat terguling menimpanya dan ia pun tak sadar diri.
Setelah ia sadar ia sudah berada di rumah sakit, disana Sidin selalu teriak-teriak mencari gadis kecil itu karena kakinya yang dipotong oleh teman digerbong itu. Tapi anak itu selamat dan sudah pulang bersama kedua orangtuanya. Ketika di rumah ia bertemu dengan teman di gerbong itu dan Sidin berteriak mengatakan orang itu gila, dan orang pun menyangka kalau Sidin juga gila.

*****                                        

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar